KSI Cipta Media Dukung FH UIA Selenggarakan Webinar Internasional Bertema Arbitrase

No Comments

Seiring dengan komitmen KSI untuk mendukung penguatan dan penyebarluasan pengetahuan kepada masyarakat umum, KSI secara resmi bekerjasama dengan Fakultas Hukum Universitas Islam As-Syafi’iyah (FH UIA).

Kerjasama yang dilakukan oleh KSI Cipta Media untuk medukung FH UIA dalam melaksanakan tri dharma perguruan tinggi di bidang Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan, dan Pengabdian Kepada Masyarakat.

Untuk memperkuat tri dharma perguruan tinggi tersebut, Ikatan Alumni FH UIA dan FH UIA bekerjasama dengan The Malaysian Institute of Arbitrators, Badan Arbitrase Syariah Nasional, Badan Arbitrase Nasional, dan RIFA Law Firm menyelenggarakan Webinar Internasional dengan tema “Arbitration in Indonesia and Malaysia:  A Comparative Perspective” yang diadakan pada 17 Juli 2021. Penyelengaraaan Webinar ini didukung penuh oleh KSI Cipta Media

Webinar ini menghadirkan narasumber yaitu Hamdan Zoelva, Prof Zainal Arifin Hoesein (Ketua Basyarnas), dan Taranjitsingh Malbi ternyata mendapatkan banyak perhatian, terbukti dengan jumlah pendaftar mencapai lebih dari 800 peserta.

Arbitrase adalah proses resolusi konflik di mana pihak-pihak yang terlibat konflik meminta bantuan kepada pihak ketiga yang netral untuk membuat keputusan mengenai solusi konflik. Namun penengah dalam arbitrase ini, arbitrer memiliki kewenangan untuk memutuskan sengketa bagi para pihak yang bersengketa.

Dalam sambutannya, Dr. Efridani Lubis, Dekan FH UIA, menjelaskan jika arbitrase dalam penyelesaian sengketa bersifat pilihan, karena itu menurut Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternative Penyelesaian Sengketa telah menjelaskan jika pengadilan negeri tidak berwenang untuk mengadili sengketa para pihak yang telah terikat dalam perjanjian arbitrase. Karena itu menurutnya, sekali memilih arbitrase, maka putusan itulah yang mengikat para pihak karena bersifat final and binding.

Di Malaysia dan Indonesia, penyelesaian sengketa melalui Arbitrase selalu mengalami peningkatan. Data  AIAC menunjukkan jika pada 2014, pendaftaran arbitrase mencapai 29 perkara, pada akhir 2018 telah mencapai 772 perkara. Data BANI Arbitration Center menyebutkan, perkara yang terdaftar di BANI dalam kurun 2007-2016 sebanyak 728 perkara.

Dalam dunia bisnis, arbitrase banyak dipilih karena dianggap lebih cepat dan biayanya lebih murah. Tak hanya itu, masing-masing pihak yang terlibat konflik juga masih bisa mengontrol resolusi konflik yang dihasilkan melalui forum arbitrase

More from our blog

See all posts
No Comments